Business Model Canvas

Awalnya, seorang teman ngajak ikutan workshop membuat Business Model Canvas (BMC) yang diadakan oleh sebuah komunitas entepreneur lain. Lain, artinya bukan TDA, hehehehehehe…. Setelah lihat flyernya, dengan Percaya Diri, saya jawab: BMC saya sudah khatam *ciyeehh. Dah berakhirlah saya dengan ditodong untuk sharing. Sebagai seorang pemula dalam dunia sharing-sharing ini, butuh waktu 3 hari untuk menyiapkan materinya.  Iya dong, walau pemula juga harus membuat materi sendiri, harus sharing ala saya.  Sumber saya, selain materi KMB tentunya adalah Buku Business Model Generation.

Saya merasa sangat beruntung bisa berkenalan dengan tools keren ini sejak lama.  Merujuk pada postingan blog saya, awal mempelajari BMC tahun 2011, pada postingan Building Business Model.  Mengapa beruntung?.. karena proses membentuk model bisnis sangat mudah ketika bisnis kita masih berupa sketch.   Diawal proses membangun bisnis, biasanya kita melakukan apa yang sudah kita ketahui, tanpa mau direpotkan oleh berbagai macam teori bisnis.  Ketika proses membangun bisnis sudah dilakukan secara tradisional inilah, sudah mulai menemukan bentuk namun tidak segera dibuat modelnya, naahh disinilah petaka itu datang.  Artinya kita, sebagai owner, harus rela memilih, merombak serta memutuskan.  Harus fokus diatas FOKUS! Ini berat, sangat BERAT!

Yuk kita mulai..

9 balok BMC

9 balok BMC

Pada gambar BMC diatas, tepat pada bagian tengahnya saya beri garis putus-putus.  Sebagai pemisah bagian kiri dan kanan.  Garis pemisah ini, merujuk pada Teori yang mengatakan bahwa cara kerja otak manusia itu terbagi kiri-kanan.  Sederhananya otak kanan menghasilkan cara berfikir yang kreatif, intuitif serta subjektif.  Sedangkan ketika otak kiri dominan maka akan berfikir logis dan rasional.

Nah, pada pola gambar diatas, ketika mengisi bagan sebelah kanan, kita dituntut untuk sekreatif dan intuitif mungkin.  Karena ini semua terkait erat dengan proses kreativitas, makin kreaftif makin uniklah model usaha kita.  Sementara untuk mengisi bagan sebelah kanan, kita dituntut untuk rasional dan logis.  Bagaimana dengan proses pembiayaan usaha? pola rekruitmen? hingga supplies produk.. Harus rasional dan sedekat mungkin dengan real condition.

1. Customer Segmentation (CS)

Siapa target market kita?.. Untuk siapa produk dan nilai ini kita ciptakan?  Target market (TM)menjadi hal yang paling penting.  Karena sesungguhnya untuk TM inilah, kita ada!.  Orientasi bisnis kita harus pada TM.  Esensi keberadaan bisnis adalah untuk Memenuhi kebutuhan dan keinginan PELANGGAN. Silakan baca tulisan sebelumnya tentang Fondasi Bisnis.

Beberapa teori membagi segmentasi pasar beberapa bagian: Demografi, Geografi, Psicografi, dan Behavior.  Detail mengenai Target Market bisa lihat pada tulisan saya sebelumnya yaa…. Ketika kita sudah bisa memutuskan siapa sesungguh target market paling penting bagi produk dan usaha kita.  Akan mempermudah kita untuk menciptakan nilai tambah, memberikan pelayanan yang sesuai.  Sehingga kita tidak melakukan hal yang sia-sia.

2. Value Preposition

Nilai apa yang kita berikan kepada pelanggan? Di antara masalah pelanggan, manakah yang kita bantu untuk selesaikan?  Kebutuhan pelanggan manakah yang kita penuhi?  Gabungan produk dan jasa apakah yang kita tawarkan kepada setiap Segmen Pelanggan?

TERKENAL SEBAGAI APA? BERMAIN DICERUK MANA?

3. CHANNEL

Menjangkau pelanggan melalui ‘saluran’ sendiri, bermitra atau paduan keduanya?  Dengan metode marketing seperti apa, kita memberi tahu CS mengenai produk dan value yang dimiliki.  Untuk target market netizen, channels yang bisa kita gunakan adalah SEO, SEM, Social Media, Email Marketing ataupun Instant Messaging.

4. CUSTOMER RELATIONSHIP

Customer relationsihp atau hubungan dengan pelanggan pada dasarnya didorong oleh ketiga hal berikut ini:

  • Akuisisi pelanggan
  • Retensi pelanggan
  • Upselling

5. REVENUE STREAMS

Sumber-sumber pendapatan utama? Sumber pendatapan lainnya yang mungkin didapatkan dari segmen pelanggan di kelas yang sama namun nice? Misalnya biaya berlanggana, biaya sewa, leasing, lisensi, komisi, fee, dan lain sebagainya.  Andaikan perusahaan kita adalah sebua bangunan, untuk membangun perusahaan yang kokoh, tiang-tiang penyangganya juga harus cukup kokoh dan banyak.   Nah, sumber pendapatan ini dapat kita analogikan seperti tiang penyangga, makin besar dan banyak, makin baik kan?!.. yuuk lanjut berfikir kreatif, apalagi sumber-sumber pendapatan yang mungkin ^_^

6. KEY RESOURCES

Sumber daya ini sangat vital perannya dalam menciptakan value dan mengirimkannya pada CS yang telah kita tentukan diawal.  Tentukan berapa banyak dan jenis keahlian apa yang diperlukan oleh karyawan?  Misalnya dalam sebuah toko: berapa banyak tenaga sales dipelrukan? Tenaga kasir? Tenaga administrasi seperti akuntan?   ^_^ Juga sumber daya keuangan dan fisik seperti peralatan, bangunan, mesin dan lain-lain.  Misalnya: perlukah langsung membangun pabrik? Untuk toko online, harusnya langsung membangun studio foto?

7. KEY ACTIVITIES

adalah kegiatan apa yang dilakukan untuk dapat menghasilkan Value Preposition yang akan Anda deliver ke Customer Segmen dan untuk ini Anda mendapatkan RevenueStram.  Sederhananya, kegiatan-kegiatan apa saja yang dilakukan untuk menghasilkan omset? Bagaimana secara operasional keseharian perusahaan kita bergerak? Kegiatan yang baik bersifat rutin ataupun tidak.  Yang penting dan yang mendesak.

8. KEY PARTNERSHIP; Mitra utama, supplier

Tentukan dari awal apakah bisnis memerlukan investor untuk permodalan atau tidak.  Apakah perlu mengadakan perjanjian kerjasama khusus dengan supplier atau pun dengan distributor/reseller.  Menggandeng partner yang melengkapi kemampuan yang kita miliki akan meningkatkan peluang keberhasilan usaha kita.  Misalnya kenal dengan distributor suatu produk yang lebih murah dan mudah, cari partner yang bisa membuat website, untuk jualan online.  Fikirikan untuk menjalin kolaborasi dengan mitra.

9. COST STRUCTURE

Semua hal yang dilakukan dari nomor 6 sampai 9 memerlukan biaya.  Lakukan perhitungan secara seksama, lalu putuskan apakah rencana-rencana bisnis ini menguntungkan?  Biaya yang harus kita keluarkan setiap bulannya sangat penting untuk diindentifikasi sejak awal.  Berapa besaran biaya tetap dan biaya variabel.

Menariknya, BMC adalah tools untuk memvisualisasikan bentuk bisnis yang ‘abstrak’.  Terutama bagi orang-orang visual seperti saya, BMC ini cocok banget.  BMC adalah living document.  Dokumen hidup yang harus terus diisi dan diperbarui seiring dengan arah dan proses perkembangan usaha kita.  Toh, sebuah strategi tidak bisa digunakan selamanya. Tidak akan cocok.  Bahkan dalam proses belajar pun, ketika naik kelas, kita harus belajar hal baru dengan guru baru. ^_^ Jadi kalau saya, BMC saya buat di karton besar, kotak-kotaknya saya isi dengan post-it.  Setiap kali ide baru datang, atau hasil diskusi baik dengan karyawan, rekan maupun mentor, saya bisa menambahkannya… My living document, yang tentunya akan menuntun saya kemana arah usaha ini harus dikembangkan.  Yeaayy semangat untuk tumbuh.  Let’s Grow!

bmc_pic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*