Dua Kodi Kartika: Heritage of Love

Mungkin apa yang saya bayangkan mengenai film ini akan sama dengan beberapa penonton lain, bahwa sepertinya ini adalah film tentang branding.  Tentang Jualan! Lantas kenapa saya masih datang untuk menonton? Pertama karena dapat tiket gratis ^_^ Kedua, tiket itu saya dapat dari teman-teman di TDA Perempuan.  Sejujurnya, saya belum pernah kopdar dengan temen-teman di TDAP loh!.. Walaupun, dengan beberapa anggotanya sudah sering bersua dan chit-chat, tetapi secara resmi saya belum pernah nongol tuh..

Maka, harap maklum, jika awal tulisan ini akan saya penuhi dengan foto-foto keseruan kopdar perdana saya dengan TDAP ya.

 


Keke busana bukanlah merk yang asing di telinga saya.  Saya punya kok gamis-nya, bagus, jahitan rapi dan bahannya adem.  Cocok dipakai seharian, nyaman.  Selain itu, beberapa tahun lalu, bersama teman-teman Fashion Club TDA Depok, kami pernah menyambangi workshop Keke di Bojong Gede.  Bisa lihat pada tulisan ini: Keke Collection.

Sebelum film dimulai, kami dihibur oleh penampilan Aden And, Kekasih Sejati.  Kemudian Rendy Saputra, CEO Keke, naik keatas pentas, disertai seluruh keluarga inti Keke Busana serta tim produksi, sutradara dll.  Satu point yang saya petik adalah Bunda Tika bukan hanya seorang pemimpi, tetapi juga gigih meraih mimpi tersebut serta selalu all out dalam mengerjakan sesuatu.  Contohnya film ini.  Tidak tanggung-tanggung, bukan hanya sebuah film pendek yang tayang di youtube channel, tetapi film dokumenter berdurasi 60 menit yang digarap dengan profesional oleh seorang sutradara berbakat peraih eagle awards.  Tayang di bioskop!.  Bagaimana bisa masuk jaringan 21? kita sewa saja bioskopnya.  Demikian penjelasan Rendy. Wow two thumbp ups!


Dua Kodi Kartika, ternyata diambil dari sebuah kisah awal mula bu Ika Kartika (Founder Keke) menjalani ‘Entepreneurship Journey’.  Dimulai dengan berjualan baju sebanyak 40 potong (2 kodi).  Ini adalah sebuah film dokumenter yang mengisahkan sebuah perjalanan yang penuh perjuangan untuk menggapai mimpi yang terbilang sederhana.  Bunda Tika, begitu iya kerap disapa, memimpikan untuk bisa menyekolahkan putri-putrinya keluarga negeri.  Ketika krisis moneter 1998, beliau mulai merintis berjualan busana, mukena hingga membuka konveksi.  Merk Keke baru mulai dibangun tahun 2006.  Tepat 10 tahun lalu.

Nama Keke sendiri diambil dari bahasa Sunda, Keukeuh, yang artinya teguh pendirian.  Keukeuh!.. Sayang teringat quote seorang mentor: To be an enteprenuer, you must be stubborn enough!.  Kurang lebih begitulah!.

Bunda Tika berkisah bagaimana dia dan suami mulai berjualan busana yang didapat dari tanah abang.  Sejak subuh sudah berangkat dengan motor bututnya.  Berdesakan dengan karung-karung belanjaan. Pernah pula mereka kehilangan 2 karung baju hasil belanjaan karena jatuh di jalan, tanpa disadari oleh pengendaranya, Suami.  Sebuah kisah romantis, bagaimana dukungan seorang suami dibalik keteguhan istri.  Indah!

Bunda Tika, membesarkan Keke dengan values kekeluargaan yang kental.  Sosok ibu dihadirkan beliau kepada seluruh karyawannya.  Beberapa karyawan ikut mengisahkan bagaimana sejak awal bekerja di Keke.  Konveksi Keke di kawasan Bogjong Gede yang menyerap tenaga kerja sekitar, bagaikan oase.  Memberikan kesempatan bagi para orang tua untuk dapat menyekolahkan anak serta memberikan kehidupan yang layak bagi keluarganya dari pendapatan yang didapat dengan bekerja sebagai karyawan di Keke.

Seiring dengan berkembangnya usaha, Bunda Tika menyadari bahwa sistem manajemen profesional harus segera diterapkan.  Takdir mempertemukan beliau dengan Rendy Saputra, yang kemudian dipercaya menjadi CEO Keke.  Perlahan, sistem mulai dibenahi.  Pembagian kerja, serta berbagai SOP diterapkan.  Bunda Tika, harus konsekuen dengan keputusan yang telah dibuat.  Beliau mulai mengurangi kunjungannya kantor, jika tidak akan mempersulit level middle manajemen.  Beliau harus mengurangi ketergantungan karyawan kepada dirinya.  Kini, Bunda Tika merancang baju dan mengontrol usahanya melalui layar monitar CCTV dari rumah.

Namun, tanpa disadari, dibalik transformasi manajemen ada seorang karyawan yang terluka.  Beliau adalah Ibu Rus, yang bersama Bunda Tika merintis usaha busana muslim ini.  Bu Rus merasa sudah tidak dibutuhkan lagi, dalam sebuah adegan, mempertemukan Bunda Tika dan Bu Rus.  Penuh haru!.  Hal ini pun menyadarkan Rendy, untuk perlahan mulai melakukan transformasi organisasi menjadi kembali kekeluargaan.

Beberapa relasi Keke pun ikut serta ambil bagian dalam film dokumenter ini.  Banyak komentar dan penilaian positif dilontarkan.  Bagaimana sosok Bunda Tika begitu dikagumi, bukan hanya karena kegigihannya tetapi juga sikap yang mengayomi, rendah hati dan selalu menerima mempelajari hal-hal baru.

———————————————-

Beruntungnya saya dapat menyaksikan film ini.  Ternyata film ini sama sekali bukan film branding apalagi jualan.  Tidak ada penampilan produk-produk, atau bentuk lainnya sebagai selipan iklan.  Banyak pembelajaran yang saya dapatkan untuk terus menapaki dunia yang sangat dinamis ini, entepeneurship world!.

One thought on “Dua Kodi Kartika: Heritage of Love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*