Indonesia Brand Forum 2016

Alhamdulillah, tahun ini bisa menghadiri prestigious event. Seharian belajar mendengarkan sharing dari mereka para pejuang yang sangat berprestasi, berjasa dan sukses.  Membuat saya merasa tidak ada apa2nya dan belum berbuat apa2.  I am nothing!

Rabu 24 Agustus 2016, bertempat di Hotel Grand Hyatt.  Tahun ini #IBF2016 mengambil tema: Branding Family Business for the Nation, Lestari dari Generasi ke Generasi. Ternyata lebih dari 95% perusahaan yang ada di Indonesia  dimiliki oleh keluarga (PwC, 2014) dengan total kekayan sekitar  25% dari PDB (produk domestik bruto) Indonesia. Dan, sekitar 40.000 orang terkaya di Indonesia adalah pemilik perusahaan keluarga. wawww… chaebol!

Bersyukur bisa ada disini, bisa mendengarkan langsung, yang selama ini hanya membaca cerita mereka di media.
Sejak opening speech oleh Mas Yuswo, sudah sangat inspiring dan bergetarkan.  Sebutkan 10 saja merk lokal yang produknya kita pakai sehari-hari?… Indomie, Teh Botol Sosro, hmm terus apalagi ya.. Terhenyak saya, betul… dari sekian banyak produk yang selalu kita gunakan, dari sekian banyak merk.. 10 saja yang merk lokal tidak bisa saya dan peserta lainnya sebutkan.  Karena merk lainnya yang sangat akrab itu, adalah merk luar.  Bukan berasal dari perusahaan lokal.  Kalaupun ada, kita tidak menyadarinya, bahkan menganggapnya sebagai merk luar juga.

Inspiring speech dari pak Mochtar Riady, beliau mendapatkan lifetime achievement award.  Sangat suka mendengarkan beliau berkisah mengenai Sunrise dan Sunset Industry.  Dan bagaimana sebagai perusahaan keluarga menghadapinya.


photogrid_1473344863524

Sesi pertama menghadirkan direktur dan CEO perusahaan-perusahaan keluarga yang telah berhasil diwariskan sampai generasi kedua bahkan ketiga dengan tema: Branding Trough Culture & Leadership.  Ada Ivan Kamadjaya, CEO Kamadjaya Logistic, Bani Maulana Mulia, Director Samudra Indonesia, Iwan Kurniawan, Vice President Sritex dan Dewi Muliaty, CEO Prodia. Hal penting yang mereka sharing adalah bagaimana core-values yang telah ditanamkan oleh founder terus dijaga dengan baik hingga generasi berikutnya.

Menurut mereka, keberadaan profesional ditengah perusahaan keluarga juga penting.  Bisa bertindak sebagai wasit.  Kelebihan dari family bisnis adalah perusahaan yang dibangun dengan cinta kasih dan fleksibilitas.  Values dan leadership yang sudah ditanamkan oleh para founder, mempermudah kerja seorang profesional untuk membuat sistem kerja, yang tentunya selaras dengan Core-Values.

Salah satu values yang ditanamkan oleh founder prodia adalah teamwork.  Oleh karenanya untuk menjaga highperformance team, tidak ada reward individual, semuanya harus berdasarkan kerja team.  Itulah cara CEO prodia, Dewi Muliaty, menjaga nilai luhur yang telah ditanamkan oleh para founder.

Menurut Iwan Lukminto (PT Sritex), perusahaan keluarga mengutamakan kerukunan dalam keluarga, juga kemapanan secara financial.  Core values Sritex, menurut  Iwan adalah penerapan manajemen Cengli dan Trilogi Sritex. Manajemen Cengli adalah tindakan fair dan saling menguntungkan secara luas. Sebuah kerja sama dapat disebut cengli, jika menguntungkan para pihak, tidak ada yang menang sendiri.

Trilogy Sritex adalah:

Pertama, perusahaan adalah sawah ladang kita bersama. Perusahaan mengayomi banyak orang. Ini menjadi destiny bukan pilihan, maka jangan dijadikan beban.

Kedua, continous improvement, harus lebih baik dari kemarin.  Hal ini harus diresapi dan diterapkan oleh setiap karyawan, baru akan memberikan hasil yang dahsyat.  Adalah tugas seorang leader ntuk mampur mendorong setiap karyawan meningkatkan kinerjanya.

Ketiga, Sritex terikat pada persatuan dan kesatuan.  Sritex memiliki 50 ribu karyawan dari berbagai suku dan agama. Keberagaman yang bersatu akan membuat langkah perusahaan menjadi lebih mudah.

Kisah tidak jauh berbeda dari Bani Maulana (Samudra Indonesia), beliau adalah generasi ke 3.  Karena pada generasi ke 2, perempuan semua dan tidak ada yang tertarik menjalankan bisnis logistik.  Menjadikan posisi generasi ke 3 lebih sulit, karena harus mampu bersaing dengan profesional yang sudah lebih dulu hadir dan berkontribusi pada perusahaan.  Juga harus belajar how to be good owner.

———————————————-

Dalam sesi berikutnya ditampilkan tujuh orang narasumber founder bisnis sekaligus menjaga warisan budaya dan sumber daya alam Indonesia. Helianti Hilman “Javara”. I Gede Surya Atmaja yang menciptakan karya seni bernilai tinggi dari koin lawas khas Bali. Tuhar founder Daya Sindoro yang berhasil membawa kopi khas Temanggung hingga diekspor ke manca negara. Ni Kadek Eka yang mempopulerkan perawatan tubuh tradisional wanita Bali dengan brand Bali Alus. (aih produk ini favorit saya).  Tampil pula para desainer lokan yang sudah mengharumkan Indonesia di dunia model internasional.  Didiet Maulana founder IKAT Indonesia, Patrick Owen, desainer pdengan brand namanya sendiri. Juga tak ketinggalan Rafi A. Ridwan, desainer muda (cilik) berusia 14 tahun yang meskipun tuna rungu namun mampu membawa brand fashionnya sampai dikenakan oleh super model Tyra Banks dan Michelle Obama.

Mereka adalah para entepreneur dengan cita-cita tinggi, keuletan dan tekad kuat untuk menggapainya. Mereka terus berjuang dan memberi dampak positif bagi masyarakat sekitar.  Mereka memiliki differensiasi yang sangat kuat dan berani.  Rafi Ridwan, I am so proud of you!

———————————–

Foto2 disaat break 🙂

—————————

Ada ungkapan “generasi pertama menciptakan, generasi kedua menikmati, generasi ketiga menghancurkan”.  Meneruskan perusahaan ketangan generasi penerus bukanlah perkara mudah.  Perpindahan tangan dari satu generasi ke generasi berikutnya tak jarang menghadapi jalan buntu karena perbedaan pandangan atau perubahan zaman. Alih generasi sebuah perusahaan keluarga pun ternyata tidak selalu dilanjutkan oleh anggota keluarga sang founder. Beberapa perusahaan keluarga menyewa professional untuk duduk sebagai direktur atau CEO.
Pada sesi talkshow ketiga dan keempat, ditampilkan generasi penerus beberapa perusahaan keluarga yang telah berhasil dikembangkan dengan brand kuat.   Pengembangan brand usaha (branding) bisa dilakukan dengan transformasi organisasi. Seperti yang dilakukan oleh JNE. Awalnya perusahaan jasa pengiriman ini lebih dikenal sebagai Tiki-JNE.   JNE yang kita kenal sekarang, yang bahkan hampir disetiap rukun warga terdapat agennya.  Ketika hendak dikembangkan, masuklah Johari Zein sebagai “orang luar” dari perusahaan yang kemudian membuat konsep baru hingga menjadi JNE saat ini.

Untuk melestarikan brand yang sudah kuat, sebuah perusahaan perlu pula menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Ini seperti yang dilakukan oleh Kawan Lama Group. Teresa Wibowo, sang cucu founder, awalnya tidak berminat meneruskan usaha keluarganya. Sempat bekerja di perusahaan advertising selama beberapa tahun, ia kemudian diingatkan untuk melanjutkan roda bisnis keluarga.  Teresa pun membuat terobosan berupa toko online untuk produk-produk keluaran Kawan Lama.

——————————————-

Cerita Iwan Lukminto, bahwa sritex awalnya hanyalah toko baju batik di pasar klewer.  Dan cerita Teresa, mengenang sang kakek, yang merintis dari toko 3×3 di glodok.  Serta kisah2 perusahaan raksasa yang dibangun dan dibesarkan dari skala yang bahkan mini.  Tentunya memberikan semangat dan inspirasi yang kuat, bagi saya khususnya, untuk terus berkarya.  Terus berjuang menata cita-cita.

Melanjutkan perenungan saya… Core Values >> Family Values >> Company Values!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*