Zona Nyaman

Banyak yang mengartikan zona nyaman adalah ketika posisi kita sebagai karyawan tetap belasan tahun, diperusahaan besar yang stabil.  Stabil?.. benarkah akan stabil selamanya?.. benarkah zona nyaman itu sungguh ada?… Mungkin memang ada, tapi saya yakin takkan lama.  Zona nyaman hanyalah semu, namun banyak dari kita yang menyangkal keadaan. Denial! ^_^ Tampak luar mungkin nyaman dan stabil, bagaimana didalamnya?  tidak kah morat-marit, kerja lembur, pulang larut demi mempertahankan posisi dan prestasi?.akankah kondisi akan terus seperti itu? hhhmmmm…

Lantas bagaimana dengan entepreneur? akankah entepreneur menemukan ‘zona nyama’ yang semu itu?.. Menurut saya tentu mungkin, sangat mungkin bahkan!  Ketika usaha sudah melewati masa 5 tahunnya, ketika omset sudah mulai stabil, ketika badai turn over karyawan tak lagi melanda.  Maka masuklah kita pada zona berikutnya: Zona Nyaman.  Namun, jika kita puas dengan kondisi tersebut, akankah kita bertahan?  Sayangnya tidak teman.  Sudah banyak usaha mencontohkan, tidak bertumbuh = sekarat = sangat dekat dengan kematian.  Coach ternama mengatakan: CHANGE OR DIE! INNOVATION OR DIE!

Bangkrutnya perusahaan jamu legendaris Indonesia, dikaitkan dengan tidak adanya innovasi dalam perusahaannya.  Menurut tulisan Bapak Renald Kasali: Beliau menganalogikan sebagai bentuk perusahaan zombie!.. layaknya zombie dalam film Walking Dead.  Tetap berjalan, tetap mencari makan tetapi tidak punya ruh.  Harus di’bunuh’.

Lihat saja toko kelontong dekat kita, yang sudah ada sejak 20-30 tahun lalu, masihkah bertahan? Banyak yang sudah tergantikan dengan mini market modern.  Kalaupun bertahan, biasanya hanya usaha sampingan saja, toko milik sendiri, dijaga sendiri tanpa karyawan.  Setelah puluhan tahun, relakah usaha kita tetap seperti itu?  CHANGE OR DIE!

Saya teringat materi yang saya dapatkan dari Coach Dr. Fahmi, beliau mengingatkan beberapa hal dalam eksekusi:

  1. Targetmu harus menakutkan dan bertujuan mulia.
    Pancang target yang membuatmu kontraksi. Yang memaksamu untuk berfikir lebih dalam. Yang memaksamu untuk beraksi lebih.
  2.  Paksa terjadi.
    Apa yang direncanakan, paksa terjadi. Walau ada hambatan, lalui hambatannya. Jika lautnya dirantai, lalui lewat gunung, begitulah sejarah berbicara.
  3. Tangguhkan dirimu.
    Ketika perjalanan bisnis terasa menyakitkan, tangguhkan dirimu, karena rasa sakit yang tidak mematikan hanya akan menguatkan.  Karena hanya baja yang bisa menempa besi.  Hanya yang tangguh yang dapat menaklukkannya.
  4. Disiplin.
    Disiplin impian, pikiran dan juga tindakan.  Jangan ubah impian hanya karena kita khawatir tak sanggup menggapainya.  Jangan biarkan distorsi terjadi dalan kepala kita, dalam pikiran.  Hanya kita yang bisa mengendalikannya.  Hanya kita yang bisa berkomitmen untuk menggapainya.

So, yuk teman pacu diri kita untuk keluar dari zona nyaman.  Nikmatilah ketidaknyamanan di zona pertumbuhan.  Ingat, bagaimana dulu kita menangis ketika jatuh belajar naik sepeda? Atau betapa tidak nyamannya ketika gigi geraham tumbuh?

“Ada rasa sakit yg tidak mematikan; yakni rasa sakit karena belajar, bertumbuh, menempa diri, menjadi kuat dan menguatkan, menjadi sukses dan menyukseskan, menjadi besar dan membesarkan, menjadi tinggi dan meninggikan; rasa sakit itu pasti menyembuhkan.“ Coach Dr. Imam Elfahmi

Kita harus terus mengasah keterampilan dan intuisi dan tentu saja ilmu bisnis.  Ditambah terus, dinaikkan terus.  Jangan biarkan ilmu kita ketinggalan jaman.  Saya percaya saya bisa.  Saya bisa melakukan #ScaleUP bisnis saya.  Saya juga percaya Kamu juga bisa teman.  Karena kita punya Allah SWT.  Tuhan yang maha kaya, maha berilmu, maha Kuasa.

Yuk, kita berdampingan, bergandengan tangan, saling support dan saling menguatkan.  Untuk tumbuh bersama.  Demi masa depan kita, keluarga kita, bangsa kita dan agama kita.

Bismillah!…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*